Lihat Berita Pilihan Hari Ini Lainnya...

Dieksekusi Dalam Hujan-Petir - BritaBlog

Dieksekusi Dalam Hujan-Petir
TUNTUT GRASI: Keluarga Merry Utami ditenangkan polisi saat menuntut pemberian grasi untuk Merry, di Dermaga Wijayapura Cilacap, Kamis (28/7). Foto kiri, keluarga Michael Titus keluar dari Dermaga Wijayapura usai bertemu dengan terpidana mati asal Nigeria itu di LP Nusakambangan.  (Foto : SM)
CILACAP -  Meski protes dari berbagai kalangan dan lobi sejumlah negara gencar dilakukan menjelang detik-detik akhir eksekusi mati 14 terpidana mati, pemerintah tetap bergeming.

Ke-14 terpidana tetap dieksekusi. Menurut informasi, eksekusi dilakukan di Lapangan Tembak Tunggal Panaluan, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jumat (28/7) dini hari. Namun, dikabarkan eksekusi sebagian terpidana dibatalkan karena mengajukan peninjauan kembali (PK). Semalam, cuaca di Nusakambangan memburuk. Turun hujan deras disertai petir yang menyambar-nyambar.

Ke-14 orang yang masuk daftar eksekusi itu terdiri atas empat warga Indonesia dan 10 warga negara asing. Semua tersangkut kasus narkoba. Keempat WNI itu adalah Freddy Budiman (37), Merry Utami (42), Agus Hadi (53), dan Pudjo Lestari (42). Dari 10 WNA, enam di antaranya asal Nigeria, yakni Obina Nwajagu (40), Michael Titus (34), Fedderikk Luttar (39), Humprey Ejike (40), Eugene Ape (44), dan Okonnkwo Nonso (34).

Lainnya adalah Ozias Sibanda (31), warga Zimbabwe; Zulfiqar Ali, asal Pakistan; Gurdip Singh (36), warga India; dan Cajetan Uchena Onyeworo Seck Osmane (34), warga Afrika Selatan. Jaksa Agung M Prasetyo membenarkan ada 14 terpidana yang menghadap regu tembak.

Kemarin, keluarga para terpidana mati mendatangi LP Nusakambangan. Mereka diberi kesempatan terakhir untuk bertemu. Salah satu yang datang adalah Siti Rohanah, istri Zulfiqar Ali. Rohanah datang menumpang minibus hitam bersama ibu Zulfiqar dan adik laki-laki bernama Mohammedi. Usai menjenguk Zulfiqar, Rohanah keluar dari Nusakambangan melalui Dermaga Wijayapura.

Menurut dia, eksekusi yang akan dijalani suaminya dilakukan Jumat dini hari. Informasi itu dia peroleh dari sejumlah petugas. Sambil menangis, Rohanah menyatakan kekecewaan pada pemerintah atas hukuman mati tersebut. Ibu Zulfiqar juga menangis sesenggukan dan tak bisa berkata-kata.

Informasi soal waktu eksekusi pada Jumat dini hari juga disampaikan Saut Edward Rajagukguk, kuasa hukum Zulfiqar. Kabar itu menguat setelah ia mendapat info bahwa kejaksaan menanyakan kepada Rohanah, di mana jasad Zulfiqar akan disemayamkan setelah ditembak mati.

“Dia (Rohanah) ditanya, jenazah mau dibawa ke mana, mau berapa mobil yang mengiringi jenazah. Pukul 09.00, Rohanah disuruh menyeberang ke Nusakambangan,” kata Saut. Ia menambahkan, ibu Zulfiqar terbang dari Pakistan dan tiba di Cilacap, Rabu (26/7). Zulfiqar Ali ditangkap pada 2004 karena menyelundupkan 300 gram heroin.

Setahun kemudian, ia divonis hukuman mati. Sebelumnya, kabar pelaksanaan eksekusi juga terlihat dari pengiriman ambulans dan peti mati ke Nusakambangan, kemarin. Petugas mengirim 17 ambulans, 14 di antaranya mengangkut peti mati.

Dengan pengawalan ketat polisi, 17 ambulans itu tiba di Dermaga Wijayapura, lalu dibawa dengan kapal ke Nusakambangan. Pengiriman dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama tujuh ambulans yang menyeberang sekitar pukul 06.00. Tiga puluh menit kemudian, 10 ambulans tiba di dermaga.

Pendemo Ditangkap

Beberapa peti mati tampak dibungkus kain putih. Sejumlah peti lain tak dibungkus. Selain ambulans dan peti mati, kemarin regu tembak, jaksa eksekutor, dan rohaniwan juga menyeberang ke pulau itu. Regu tembak diangkut sejumlah bus dan menyeberang melalui dermaga milik Holcim, tidak lewat Wijayapura. Sementara itu, pengamanan Dermaga Wijayapura makin ketat.

Sejumlah pengunjuk rasa yang menentang eksekusi Merry Utami dibubarkan. Tujuh pendemo ditangkap dan dibawa ke Polres Cilacap. Sebelum ditangkap, pengunjuk rasa dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) berorasi dan menggelar poster. ”Unjuk rasa dibubarkan karena tidak berizin,” kata Kasubag Humas Polres Cilacap AKP Bintoro Wasono.

Di Jakarta, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengungkapkan, pihaknya menyiapkan 300 personel sebagai anggota regu tembak dan tim pengamanan lokasi. Dia menambahkan, regu tembak untuk masing-masing terpidana terdiri atas 12 personel.

Ia menegaskan, Polri hanya bertugas sebagai regu tembak dan pengaman pelaksanaan eksekusi. Pihak-pihak terkait seperti rohaniwan dan dokter forensik berada di bawah koordinasi kejaksaan. (SM, viva,dtc)


Tag : NEWS
0 Komentar untuk "Dieksekusi Dalam Hujan-Petir - BritaBlog"

Back To Top